Kampung Sang Jawara Berambut Gondrong

Permukiman penduduk tampak berjejer ramai di sepanjang Kelurahan Gondrong, Kota Tangerang.

Di tengah geliat modernisasi, tak banyak yang sadar jika wilayah ini memiliki sejarah panjang.

Gondrong merupakan salah satu kelurahan tertua di Kecamatan Cipondoh. Wilayah dengan luas 1,87km² ini telah dihuni sejak lama, mengukir sejarah, dan berkembang perlahan mengikuti perubahan kota.

Merujuk buku Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang karya Burhanudin, nama Gondrong sendiri muncul dari cerita masa lalu yang masih lekat di ingatan warga.

Kisah ini terjadi sekitar tahun 1949-1952 yang berkaitan dengan sejarah Mat Item, seorang jawara yang pernah berkuasa di kawasan ini.

Kala itu, Sang Jawara tampil dengan rambutnya yang panjang dan gondrong, karena itu ia disebut Si Gondrong.

Lewat penampilannya itu, Si Gondrong memberi kesan yang khas. Ia dikenal luas dan disegani masyarakat.

Apa pun yang diinginkan Sang Jawara kerap dituruti, tanpa memandang benar atau salah. Tindakannya itu memberikan kesan menakutkan bagi warga setempat.

“Jadi Si Gondrong itu terkait dengan sejarah Mat Item, yang namanya gegarong, yang namanya kambing kita diminta, yang namanya anak kita cakep diminta dia, ya namanya jawara jadi geged-geged ya apa boleh buat, sah tidak sah diambillah oleh si jawara itu. Nah berikutnya dibawa si Gondrong,” tutur Selan alias Sahlan bin Nadam dalam buku tersebut.

Untuk mengenang sosoknya, kampung tempat tinggalnya kemudian disebut Kampung Gondrong.

Kondisi alam di wilayahnya yang dipenuhi pepohonan rindang juga membuat kawasan ini tampak gondrong dari kejauhan, dan menghadirkan cerita lain dari asal penciptaan nama Gondrong.

Gondrong terus bergerak dari masa ke masa. Terbagi dalam sejumlah kampung yang masih dikenal warga seperti Gondrong Sebrang, Gondrong Udik, Kampung Dongkal, hingga Blok Amerika menjadi bagian dari wilayah ini.

Setiap kampung menyimpan kisah yang berbeda. Nama-nama kampung tersebut lahir dari arah, kebiasaan, dan cerita yang menjadi identitas warga.

Jejak Rasa dari Tanah Betawi

Di antara sederet kampung di Kelurahan Gondrong, Kampung Dongkal menjadi sebuah nama yang paling akrab di telinga. Jika memikirkannya akan langsung teringat jajanan pasar yang manis, padat, dan lembut.

Bukan hanya sebagai suatu wilayah, tetapi juga asal dari sebuah kudapan tradisional khas betawi yaitu Kue Dongkal.

Menurut sejarah, warga Kampung Dongkal dikenal pandai membuat kue tersebut. Setiap rumah memiliki keterampilan membuat dongkal. Keahlian ini diwariskan dari generasi ke generasi.

“Aslinya mah garing, kering, kalo yang dijual di Gondrong mah kopian (baca: bukan asli). Nah orang Dongkal ahlinya bikin kue Dongkal. Rasanya enak, kaga ada yang ngalahin,” tutur Selan.

Kue dongkal buatan Kampung Dongkal memiliki cita rasa yang khas. Gurihnya kelapa, turut membentuk tekstur lembut dengan sentuhan rasa manis dari gula aren di lapisannya.

Karena kelezatannya, dongkal dari kampung ini semakin dikenal luas dan dianggap jadi yang paling orisinal.

Kampung Dongkal menjadi bagian penting dari sejarah Kelurahan Gondrong. Dongkal bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari sejarah dan identitas kampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top