Dewi Sambi, Brand Lokal Kota Tangerang yang Angkat Batik Baduy ke Pasar Global

Kobennews. Id — Brand fashion lokal asal Kota Tangerang, Dewi Sambi, terus menunjukkan eksistensinya sebagai label busana tradisional modern yang berakar kuat pada kekayaan budaya Banten. Mengusung wastra khas daerah, terutama batik Baduy, produk Dewi Sambi kini tak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar internasional.

Pendiri Dewi Sambi, Uthie Mintiarto, menuturkan bahwa brand ini berdiri sejak 2012 dengan fokus pada pengembangan busana berbahan tenun dan batik. “Nama brand Dewi Sambi berdiri sejak 2012. Kami memproduksi baju tenun, batik, dan kain khas Banten seperti batik Baduy,” ujar Uthie.

Dewi Sambi menghadirkan busana siap pakai untuk perempuan dan laki-laki dengan desain yang memadukan unsur tradisional dan sentuhan modern. Selain koleksi ritel, brand ini juga kerap memproduksi batik khusus untuk kebutuhan instansi pemerintah, baik di tingkat kota, provinsi, maupun lembaga.

“Batik kami juga banyak diproduksi untuk dinas kota, provinsi, dan lembaga-lembaga,” katanya.

Dalam hal pemasaran, Uthie mengakui peran penting promosi dan pemanfaatan platform digital. “Aku beruntung difasilitasi mengikuti fashion show. Untuk media marketing, aku banyak pakai Instagram dan marketplace di Shopee,” ujarnya. Selain itu, penjualan Dewi Sambi juga ditopang oleh partisipasi aktif dalam pameran nasional dan internasional.

Sejak mulai melakukan ekspor pada 2019, pasar Dewi Sambi semakin meluas. “Pasar luar negeri kita ke Singapura dan Malaysia. Kalau lokal, sudah ke Bali, Bengkulu, Padang, Kalimantan Timur, dan wilayah Banten,” ungkap Uthie.

Produk Dewi Sambi dipasarkan dengan rentang harga Rp675 ribu hingga Rp5 juta, menyesuaikan material dan detail pengerjaan. Target pasarnya pun cukup spesifik. “Target market aku ibu-ibu pejabat, seperti Dharma Wanita dan komunitas perempuan lainnya,” katanya.

Tak heran, karya Dewi Sambi telah dikenakan berbagai tokoh nasional. “Yang sudah memakai produk kami di antaranya Gubernur Banten, NTT, NTB, Maluku, dan Sulawesi, juga wali kota, wakil wali kota Tangerang, bupati, pejabat dirjen, hingga kementerian,” jelasnya.

Di balik pencapaiannya, Dewi Sambi tetap bertumpu pada produksi lokal. Proses pembuatan busana dilakukan di kawasan Cipadu, Larangan, Kota Tangerang, dengan melibatkan sekitar 50 karyawan. Bagi Uthie, keberlanjutan brand bukan hanya soal ekspansi pasar, tetapi juga pemberdayaan sumber daya lokal.

Melalui Dewi Sambi, Uthie Mintiarto membuktikan bahwa fesyen berbasis tradisi daerah mampu bersaing di pasar global, tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi ruh utama setiap karyanya. Fajrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top