kobennews.id- Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang menggelar kegiatan skrining kesehatan mental bagi para pegawainya. Langkah ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan jiwa para pegawai, serta tenaga penunjang di tengah tingginya dinamika pelayanan publik.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni mengungkapkan, skrining ini bertujuan untuk mendeteksi dini kondisi mental para tenaga kesehatan dan staf, sekaligus mengedukasi pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan jiwa.
Ia menjelaskan, pemeriksaan kesehatan jiwa meliputi pengisian instrumen evaluasi psikologis mandiri yang didampingi langsung oleh tenaga medis dan psikolog klinis. Mulai dari hipnoterapi, deteksi dini dengan mengidentifikasi tingkat stres, kecemasan hingga kelelahan kerja secara cepat, pendampingan professional dengan menyediakan layanan konseling langsung bersama psikolog klinis. Sehingga, hasil dari skrining akan menjadi dasar pemberian konsultasi, penanganan dini, maupun konseling lanjutan bagi pegawai yang membutuhkan.
“Kesehatan mental pekerja memiliki dampak langsung terhadap kualitas layanan masyarakat. Melalui deteksi dini ini, lingkungan kerja yang sehat, kondusif, dan produktif dapat terus terjaga,” katanya.
Ia berharap, sebelum meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kota Tangerang baik jiwa dan raga, tenaga kesehatan harus sehat lebih dahulu agar bisa menjadi contoh dan membantu proses penyembuhan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan mental. (Dini)
Jenis Gangguan Kesehatan Mental di Tempat Kerja
Psikolog Klinis dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Banten Siti Bahiyah menjelaskan, ada beberapa kondisi kesehatan mental pekerja yang sering dialami. Meliputi gangguan kecemasan munul rasa khawatir yang berlebihan, gelisah, sulit tidur, depresi ditandai dengan perasaan putus asa, hilang konsentrasi dan burnout (kelelahan mental) yang ditandai dengan kelelahan empsional, sikap sinis terhadap pekerjaan akibat beban kerja berlebih serta kurangnya dukungan sosial.
Ia menjelaskan, pemicu utamanya adalah beban kerja berlebihan, kurang dukungan social dan tekanan adaptasi. Sedangkan gejala fisik dan perilakuberupa penurunan daya konsetrasi dan produktivitas, perubahan pola tidur dan mudah marah, sensitif dan melapiaskan emosi ke orang terdekat. (Dini)
