“Kami Dianggap Keluarga”: Cerita Mega, Relawan yang Menyaksikan Luka dan Harapan Warga Ngalau Gadang

Kobennews.id — Di balik medan berat dan jalur yang terputus, ada cerita kemanusiaan yang membekas dalam ingatan Mega Silviyanti. Relawan asal Kota Tangerang itu baru saja kembali dari misi kemanusiaan bersama Lintas Komunitas di Desa Ngalau Gadang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Selama 10 hari, sejak 18 hingga 28 Desember 2025, Mega mengabdikan tenaga dan hatinya untuk warga terdampak banjir bandang dan longsor.

Mega, yang merupakan anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Tangerang, mengisahkan bahwa perjalanannya ke Sumatera Barat bermula dari aktivitas kerelawanannya di Lintas Komunitas, sebuah wadah yang menghimpun berbagai organisasi kemanusiaan.

“Saya aktif di kegiatan relawan yang tergabung dalam Lintas Komunitas. Di sana banyak organisasi kemanusiaan, dan saya dari Tagana. Dari situ, pengurus mempercayakan saya untuk berangkat ke Sumatera menjalankan misi kemanusiaan,” kata Mega, Kamis, 8 Januari 2026.

Setibanya di lokasi bencana, Mega dan relawan lain langsung dihadapkan pada kenyataan pahit. Akses menuju wilayah terdampak tidak mudah. Beberapa jalur utama terputus, membuat perjalanan menjadi panjang dan melelahkan.

“Medannya cukup berat. Banyak jalan terputus, jadi kami benar-benar butuh tenaga ekstra, kesiapan mental, dan kerja sama tim untuk bisa sampai ke warga,” ujarnya.

Dalam proses asesmen, Mega menemukan fakta yang membuat hatinya terenyuh. Dua kampung, yakni Kampung Labua dan Kampung Andalai, masih terisolasi. Rumah-rumah warga hanyut, kebun dan sumber penghidupan lenyap dalam sekejap diterjang banjir bandang.

“Saya bertemu seorang ibu yang rumahnya habis tersapu banjir, termasuk lumbung sayur yang menjadi sumber penghasilannya. Ia bilang sudah tidak punya semangat hidup karena semuanya hilang,” tutur Mega lirih.

Di tengah keterbatasan, para relawan bekerja sesuai peran masing-masing. Tim Tagana Kota Tangerang fokus menyiapkan logistik dan dapur umum, sementara relawan lain membantu perbaikan infrastruktur serta pelayanan kesehatan. Mega sendiri bertugas melakukan asesmen, mendata jumlah warga, rumah, dan kepala keluarga yang terdampak bencana.

“Setiap relawan sudah tahu tugasnya. Saya lebih banyak turun mendata dan memastikan kondisi warga di lapangan,” jelasnya.

Namun, dari sekian banyak pengalaman, momen paling mengharukan bagi Mega justru terjadi di akhir misi. Saat waktu kepulangan tiba, ikatan emosional yang terbangun selama 10 hari tak bisa dibendung.

“Ketika pamit pulang, suasananya sangat haru. Warga merasa terbantu dan sudah menganggap kami seperti keluarga sendiri,” kenangnya.

Tak hanya kedekatan dengan warga, kebersamaan antarrelawan dari berbagai latar belakang organisasi juga menjadi pelajaran berharga bagi Mega. Di lapangan, perbedaan melebur menjadi satu tujuan: kemanusiaan.

“Kami datang dari organisasi yang berbeda, tapi di lapangan kami makan bersama, tinggal bersama, dan saling menguatkan,” katanya.

Menutup ceritanya, Mega berbagi pesan bagi siapa pun yang ingin terjun menjadi relawan. Baginya, kerelawanan bukan sekadar hadir di lokasi bencana, tetapi tentang keikhlasan dan kesiapan diri.

“Luruskan niat, siapkan fisik dan mental, dan jangan berhenti belajar. Bantuan sekecil apa pun sangat berarti bagi mereka yang sedang tertimpa musibah,” pungkas Mega. Fajrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top