Yuk ! Pilah Sampah Dari Rumah

Kobennews.id- Permasalahan sampah terjadi di berbagai kota di Indonesia termasuk Kota Tangerang. Volume sampah yang terus meningkat, tidak sebanding dengan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah mendekati overload.

Diperlukan pengelolaan sampah yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam mengurangi sampah yang dibuang ke TPA.

Pemerintah Kota Tangerang telah menjalankan sejumlah strategi pengolahan sampah. Mulai dari penerapan teknologi yaitu mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF) dan insenerator hingga pembentukan bank sampah di tingkat wilayah.

Melalui bank sampah, masyarakat diajak memilah sampah dari rumah sehingga sampah yang dibuang ke TPA merupakan residu. Tak hanya itu bank sampah juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pegiat Bank Sampah 102, Kelurahan Cibodasari, Saifudin menuturkan, persoalan sampah di Kota Tangerang menjadi tanggung jawab bersama. Diperlukan kesadaran bersama dan kolaborasi untuk mengurangi jumlah sampah, salah satunya melalui bank sampah. 

‘Kesadaran masyarakat menjadi dasar utama dalam mengatasi persoalan persampahan. Program bank sampah dimulai dengan memilah sampah dari rumah, memilah sampah bermanfaat untuk mendaur ulang sampah anorganik sehingga tidak mencemari lingkungan,” ujarnya.

Dikatakan Saifudin, Kementerian Lingkungan Hidup menargetkan Indonesia memiliki 83 ribu bank sampah hingga 2029. Jumlah bank sampah di Kota Tangerang, masih harus ditingkatkan dengan pembentukan bank sampah baru. 

“Kami mengajak masyarakat ayo memulai memilah sampah dari rumah, serta berpartisipasi dalam mendirikan dan menggerakan Bank sampah di lingkungan. Harapannya bank sampah di Kota Tangerang dapat terbentuk hingga tingkat RW,” ujarnya.

Akademisi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Hari Nugraha Ranudinata Ph.D mengatakan, upaya Pemerintah Kota Tangerang dalam mengurangi sampah melalui teknologi modern dan pembentukan bank sampah adalah langkah positif yang patut diapresiasi. Mengajak masyarakat memilah sampah dari rumah menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan sampah yang berkelanjutan. 

“Bank Sampah bukan hanya berfungsi sebagai solusi teknis dalam pengelolaan sampah, tetapi juga telah berkembang menjadi gerakan sosial yang mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ungkapnya. 

Ia mengatakan, kehadiran bank sampah mampu membangun kesadaran kolektif, memperkuat nilai gotong royong, serta menciptakan manfaat ekonomi bagi warga. 

“Ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang berbasis partisipasi masyarakat dapat menjadi bagian dari transformasi budaya lingkungan yang positif,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, agar program ini lebih optimal, diperlukan peningkatan edukasi, penyediaan fasilitas pendukung, serta insentif bagi warga agar partisipasi semakin luas dan efektif.

Ia mengatakan, upaya Pemerintah Kota Tangerang dalam mengurangi sampah melalui teknologi modern dan Bank Sampah patut diapresiasi sebagai langkah berkelanjutan yang mendorong partisipasi masyarakat sejak dari rumah, sejalan dengan inisiatif Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) yang membudayakan pemilahan sampah organik dan anorganik di lingkungan kampus—khususnya dari kantin—guna memaksimalkan pemanfaatan ulang dan mengurangi residu.

“Agar program ini semakin optimal, Pemerintah Kota Tangerang perlu meningkatkan edukasi publik, memperluas infrastruktur pendukung, memberikan insentif partisipatif, serta menjalin kolaborasi dengan institusi pendidikan seperti UPJ untuk mendorong inovasi dalam pengelolaan sampah berbasis data dan kebutuhan lokal,” ujarnya.

Lanjutnya, dalam konteks urban living, keberadaan Bank Sampah berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas hidup di kawasan perkotaan dengan menciptakan lingkungan yang lebih tertata dan sehat, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga melalui insentif daur ulang dan membuka peluang usaha berbasis sampah, serta memperkuat ikatan sosial dalam komunitas yang bersama-sama menjaga kebersihan wilayahnya. “Sehingga pengelolaan sampah partisipatif menjadi bagian penting dari transformasi budaya lingkungan kota yang lebih inklusif dan resilien,” ujarnya.(adit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top