Kobennews.id — Memasuki awal tahun, semangat baru kerap diiringi dengan tantangan menjaga konsistensi kerja. Setelah melewati masa libur panjang akhir tahun, tidak sedikit pekerja yang harus kembali menyesuaikan ritme aktivitas agar produktivitas tetap terjaga.
Fase awal tahun menjadi periode krusial dalam membangun kebiasaan kerja yang berkelanjutan. Menurutnya, euforia resolusi tahun baru sering kali tidak dibarengi dengan komitmen jangka panjang.
“Banyak orang memulai tahun dengan target besar, tetapi tanpa konsistensi, semangat itu mudah menurun setelah satu atau dua bulan,” ujarnya.
Konsistensi kerja tidak selalu identik dengan target besar, melainkan dimulai dari disiplin menjalankan rutinitas dasar. Menjaga jam kerja, menyelesaikan tugas tepat waktu, serta mengelola energi menjadi kunci agar produktivitas tetap stabil.
Awal tahun sebagai momen evaluasi sekaligus penataan ulang sistem kerja. Ia menyebut, perusahaan atau organisasi umumnya mulai menetapkan target baru sehingga membutuhkan kesiapan mental dan kedisiplinan dari para pegwai.
“Awal tahun adalah fondasi. Jika ritme kerja sudah tertata sejak Januari, biasanya performa hingga akhir tahun akan lebih konsisten,” katanya.
Sementara itu, sejumlah pekerja mengakui menjaga konsistensi bukan perkara mudah. Beban pekerjaan yang meningkat, adaptasi target baru, hingga faktor kelelahan pascalibur menjadi tantangan tersendiri.
Pengamat ketenagakerjaan menilai, perusahaan dan pekerja perlu membangun komunikasi yang sehat agar konsistensi kerja dapat terjaga. Fleksibilitas kerja, pembagian target yang realistis, serta dukungan lingkungan kerja dinilai mampu mencegah penurunan produktivitas di awal tahun.
Dengan konsistensi yang terjaga sejak awal, diharapkan kinerja individu maupun organisasi dapat berjalan lebih stabil sepanjang tahun, sekaligus meminimalkan risiko burnout di tengah tekanan target yang semakin meningkat.
