Di tengah dinamika industri fashion yang terus berubah, pelaku usaha ecoprint dituntut mampu beradaptasi agar produk berbahan alami tetap memiliki daya saing. Hal itulah yang dilakukan Mooladara Eco Fashion melalui inovasi desain, pengembangan warna alami, hingga strategi pemasaran digital yang berhasil membuka akses ke pasar internasional.
Owner Mooladara Eco Fashion, Halida Srikandi, mengatakan perubahan tren menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari dalam industri mode. Karena itu, pelaku usaha ecoprint harus aktif mengikuti perkembangan warna dan desain yang tengah diminati konsumen.
Menurut Halida, keterbatasan karakter warna dari pewarna alami menjadi tantangan utama. Untuk menyiasatinya, Mooladara rutin melakukan riset dengan mengkombinasikan berbagai bahan pendukung seperti garam, tawas, dan iron agar menghasilkan warna yang lebih mendekati tren fesyen setiap tahunnya.
“Setiap tahun kami memantau warna-warna yang menjadi tren. Karena warna alam memiliki keterbatasan, kami melakukan berbagai eksperimen agar hasilnya tetap relevan dengan kebutuhan pasar,” ujar Halida.
Tak hanya mengembangkan warna, Mooladara juga menghadirkan inovasi melalui perpaduan teknik ecoprint dengan berbagai wastra Nusantara seperti tenun, batik, jumputan, hingga shibori. Kombinasi tersebut menghasilkan produk yang lebih eksklusif dengan nilai seni yang tinggi. Fajrin
Mooladara Tembus Pasar Australia dan Inggris
Saat ini, pasar utama Mooladara masih berasal dari Jabodetabek dan sejumlah daerah yang menjadi lokasi pameran. Namun, melalui Etsy dan pelanggan loyal, produk ecoprint asal Tangerang itu juga telah dipasarkan ke berbagai negara.
“Ada pelanggan dari Australia, Inggris, dan beberapa negara lain yang awalnya mengenal produk kami melalui pameran, kemudian melakukan repeat order,” kata Halida.
Ia menjelaskan kapasitas produksi ecoprint berbeda dengan industri garmen karena setiap lembar kain dibuat secara manual dan memiliki karakter unik. Seluruh proses sangat bergantung pada kreativitas artisan, mulai dari penyusunan daun hingga penyesuaian motif sesuai desain pakaian.
Dalam kondisi optimal, Mooladara mampu memproduksi hingga empat lembar kain ecoprint berukuran 2,5 meter x 120 centimeters per hari. Namun jumlah tersebut dapat berubah tergantung tingkat kerumitan motif yang dikerjakan.
“Ecoprint bukan sekadar produk, tetapi karya seni. Ada artisan yang membuat motif sederhana, ada pula yang merancang pola secara detail sesuai desain busana,” jelasnya.
Untuk memperluas pasar, Mooladara secara rutin mengikuti berbagai pameran berskala nasional, termasuk Inacraft, serta sejumlah pameran yang difasilitasi kementerian maupun Dinas Koperasi dan UKM. Fajrin
