Peningkatan Kapasitas Kader Puspaga

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menggelar kegiatan pembekalan ilmu terkait Pencegahan Perilaku Seksual Berisiko Pada Anak bagi para kader Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). Langkah ini dilakukan guna memperkuat kapasitas kader, sebagai garda terdepan pendampingan keluarga di tingkat masyarakat.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Pemenuhan Hak Anak DP3AP2KB Kota Tangerang Wilopo Tetuko Sigit menegaskan, bahwa kader Puspaga memiliki peran krusial sebagai jembatan informasi dan konseling dasar bagi para orang tua. Melalui pembekalan ini, kader dibekali pengetahuan komprehensif terkait psikologi perkembangan anak, komunikasi efektif, hingga metode penanganan konflik dalam keluarga secara bijak.

“Melalui kegiatan peningkatan kapasitas kader Puspaga, diharapkan kader memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang lebih baik dalam memberikan edukasi serta pendampingan kepada keluarga. Sehingga mampu berperan aktif dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas, pengasuhan positif, dan terpenuhinya hak-hak anak,” katanya. (Dini)

Menegah Perilaku Seksual Pada Anak

Fasilitator Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Tangerang Yulisza Syahtiani mengaku, anak dapat melakukan perilaku seksual berisiko karena beberapa faktor. Seperti, tekanan dari teman sebaya, lingkungan yang kurang aman, norma atau budaya yang menormalisasi perilaku berisiko, paparan konten seksual, akses terhadap pronografi, dan kurangnya pendampingan orang dewasa.

Ia mengakum hal pertama yang bisa dilakukan orang dewasa adalah mengajarkan anak tentang seks bukan pada hal yang berbau porno, tetapi lebih kepada memberitahu informasi terkait fungsi organ tubuh terutama organ tubuh yang berbeda antara perempuan dengan laki-laki. Kemudian, beritahu tentang anggota tubuh yang boleh atau tidak boleh diperhatikan.

Selain itu, lanjutnya, jelaskan terkait perbedaan sentuhan bahaya atau sentuhan kasih sayang (literasi seksual), batas pertemanan sehat, perubahan tubuh saat pubertas. Untuk itu, orang tua dapat melindungi anak dengan membangun komunikasi terbuka tentang tubuh, batasan diri dan seksualitas sesuai usia, terapkan pengasuhan positif, ciptakan rumah yang aman agar anak berani bercerita, kenali dan awasi aktivitas anak dan ajarkan batasan serta kemampuan berkata tidak. (Dini)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top