Ini Kata Dokter Paru Bahaya Menghirup Abu Vulkanik

Paparan abu vulkanik pascaerupsi gunung berapi, bukan sekadar gangguan debu biasa. Dokter Spesialis Paru RS Melati Kota Tangerang dr. Rifian Arnanda, Sp.P mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kandungan abu vulkanik yang sangat tajam dan berukuran sangat kecil (PM2.5), karena berisiko tinggi mengganggu fungsi pernapasan hingga menyebabkan kerusakan paru jangka panjang.

Ia menjelaskan, bahwa abu yang terhisap masuk ke paru dan saluran napas secara langsung akan menyebabkan keluhan batuk, iritasi tenggorokan hingga resiko gangguan bronchitis, asma bronkiale dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Selain itu, menghirup abu vulkanik dalam jangka waktu panjang, tentu sangat berbahaya bagi kesehatan.

Ia menegaskan, meskipun lokasi erupsi berjauhan dengan Kota Tangerang, namun partikel debu yang terbawa oleh angin tetap berbahaya apalagi jika debu tersebut masuk ke rumah dan terhirup oleh manusia.

“Jika muncul sesak napas, napas berbunyi, batuk yang semakin berat, nyeri dada atau keluhan yang tidak membaik, sebaiknya segera memeriksakan diri. Bagi pasien dengan riwayat penyakit paru atau asma, jangan menunda pemeriksaan apabila gejala memburuk,” tegasnya.

Sebagai bentuk pencegahan, ia menyarankan, gunakan masker untuk meminimalisir perburukan kondisi terutama bagi penderita penyakit paru kronik, gunakan kacamata pelindung dan baju tangan panjang saat berada di luar rumah, membatasi aktivitas fisik berlebihan di luar rumah dan segera membersihkan diri dengan baik. (Dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top