KOTA TANGERANG, Kobennews – Di balik gemuruh mesin dan aroma oli di Bengkel Mobil Bayur Utama, kawasan Periuk, Kota Tangerang, terdapat kisah luar biasa tentang keteguhan hati seorang ayah.
Dialah Simon (54), montir sederhana asal Gerendeng, yang membuktikan bahwa kejujuran dan kerja keras adalah kunci untuk mengubah nasib keluarga—bahkan hingga mengantarkan kedua putrinya meraih gelar tertinggi, Doktor (S3).
Lahir pada tahun 1971, Simon dikenal sebagai sosok yang ramah dan memegang teguh satu prinsip hidup yang ia jadikan pedoman: “Hidup lurus, jangan nipu orang.”
Prinsip emas ini lahir dari sebuah pengalaman pahit yang menjadi titik balik hidupnya di akhir tahun 2000. Takdir akan musibah kehilangan anak ketiga mengubah segalanya. Tragedi itu membuatnya sadar dan bertekad kuat untuk memperbaiki diri dan memulai hidup dari nol.
“Kejadian itu membuat saya sadar dan mulai dari nol lagi. Sempat terpuruk, tapi harus tetap semangat,” ujar Simon, kala ditemui di bengkel yang ia kelola bersama sang istri tercinta.
Masa-masa awal kebangkitannya penuh perjuangan. Simon pernah jatuh bangun, bahkan harus mengandalkan bantuan tulus dari Ketua RT dan para tetangga untuk sekadar bertahan hidup dan menghidupi keluarganya.
Namun, berkat ketekunan dan moto kejujuran yang ia tanamkan dalam pekerjaannya, Bengkel Mobil Bayur Utama yang telah ia kelola selama sembilan tahun kini berdiri kokoh. Bengkelnya tak pernah sepi, melayani rata-rata lima mobil pelanggan setiap hari. Ia kini dibantu oleh dua montir dan satu asisten yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri, menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan penuh kepercayaan.
Puncak kisah inspiratif Simon adalah keberhasilannya dalam pendidikan anak-anaknya. Dengan penghasilan yang diperoleh dari keringat dan kejujuran di bengkel sederhana, Simon mampu menopang pendidikan kedua anaknya hingga jenjang tertinggi.
Saat ini, kedua anaknya telah meraih gelar Doktor (S3) dan telah berumah tangga. Simon bersyukur tak terkira atas perubahan hidup yang ia alami dan pencapaian luar biasa anak-anaknya.
Simon menutup kisahnya dengan pesan penuh makna yang menjadi rahasia kesuksesannya: “Yang penting kerja lurus, nggak nipu orang. Rezeki itu nggak akan ke mana.” Kisah Simon adalah pengingat bahwa dedikasi seorang ayah, didukung prinsip hidup yang kuat, mampu melampaui segala keterbatasan ekonomi, membuka pintu kesuksesan, dan mengubah harapan menjadi kenyataan bagi generasi penerusnya. (Panji)
