Wali Kota Sachrudin Bangun Semangat ASN Songsong Tahun 2026

KOTA TANGERANG, KOBENNEWS – Suasana apel pagi pertama di tahun 2026 terasa berbeda di pusat pemerintahan Kota Tangerang. Walikota Tangerang, Sachrudin berdiri menyampaikan refleksi mendalam atas perjalanan kota yang baru saja melewati tahun 2025 dengan segudang pencapaian.

Bagi Sachrudin, tahun 2025 bukan sekadar deretan angka kalender, melainkan bukti sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan media. Namun, ia menegaskan bahwa langkah kaki pemerintah tidak boleh terhenti pada seremoni penghargaan semata.

​Kota Tangerang berhasil memboyong sekitar 81 penghargaan dari berbagai level—mulai dari pusat hingga swasta—pada tahun lalu, Sachrudin menanggapi capaian tersebut dengan rendah hati.

Baginya, deretan piala itu hanyalah bonus. “Soal penghargaan ya itu mah ya bonus barangkali,” jelas Sachrudin, Senin 5 Januari 2026.

​”Intinya yang paling penting adalah bagaimana program ini manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya dengan nada optimis.

​Salah satu sorotan utama dalam resolusi 2026 adalah keberlanjutan penanganan masalah klasik perkotaan: sampah.

Sachrudin mengenang betapa sulitnya di awal masa jabatan untuk membersihkan titik-titik kumuh seperti di sepanjang Jalan Hasyim Ashari yang dulu dipenuhi TPS liar.

Kini, pemandangan itu mulai berubah. Melalui optimalisasi armada, termasuk pemberian truk dan gerobak sampah baru di wilayah seperti Kelurahan Petir, pemerintah berupaya memastikan sampah tidak lagi mengendap di pinggir jalan.

“Di awal-awal memang ini sangat sulit karena kebiasaan masyarakat, tapi alhamdulillah sekarang bisa kita lakukan bersama-sama,” tambahnya.

​Memasuki tahun 2026, arah kemudi Pemerintah Kota Tangerang dipastikan akan lebih tajam menyasar kebutuhan fundamental.

Infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Sachrudin berjanji bahwa program-program strategis di tahun ini akan lebih “menyentuh” lapisan masyarakat paling bawah.

Baginya, kesuksesan sebuah kota tidak diukur dari megahnya gedung. “Melainkan dari seberapa besar masyarakatnya merasa terlayani dan terlindungi oleh pemerintahnya sendiri,” pungkasnya. (Panji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top