kobennews.id- Sebagai seorang pemimpin perempuan, Lurah Cipondoh Septi Dwi Ratu Nirwana menghadapi banyak rintangan dalam pekerjaan. Apalagi, kebanyakan selama ini jabatan lurah dipimpin oleh kaum adam ditambah di usianya yang masih muda dan sudah diberi amanah untuk menjadi lurah.
Ia mengaku, tidak mudah menjadi seorang lurah. Apalagi, di wilayah Cipondoh terdapat pasar yang dinilai memiliki tantangan sendiri saat menghadapi konflik. Namun meski seorang perempuan, dalam pekerjaan ia berusaha untuk bertindak tegas, penuh taktik dan persuasif khususnya saat menertibkan Pasar Sipon.
“Ya, kadang kalau pimpinan perempuan, banyak orang memandang sebelah mata. Tapi saya nggak pantang menyerah dan nggak bisa berjalan sendiri tanpa ada partisipasi masyarakat. Makannya saya ingin patahkan bahwa perempuan itu bisa dan harus maju, perempuan harus berkarya bukan berarti harus menyamai tapi harus bisa lebih,” katanya.
Perempuan dua anak ini menilai, Kartini masa kini tantangannya semakin berat. Apalagi, di era digital dan mengharuskan wanita bisa melakukan segala hal. Namun kembali lagi kepada kodrat sebagai pimpinan, istri dan ibu yang harus mengimbangkan semuanya. (Dini)

Perjuangkan dan Lindungi Perempuan
Bagi Nurhasanah, menjadi psikolog yang banyak menangani permasalahan perempuan dan anak di UPT PPA Kota Tangerang menjadi tantangan terbesar. Dimana, dirinya harus bisa memposisikan diri dan mengatur emosi serta perasaan saat berhadapan dengan kasus.
“Kalau terbawa suasana itu sudah pasti, karena energi kita akan ketarik dengan cerita klien,” katanya.
Namun, ia mengaku, untuk mengatasi hal itu, ada teknik tersendiri untuk menyembuhkan agar tidak larut dalam permasalahan klien salah satunya merelaksasikan diri dan stabilisasi emosi. Tujuannya adalah ketika kembali ke rumah, pikiran dan tubuh ini kembali fresh.
Nurhasanah memaknai Kartini bukan hanya sebagai sosok sejarah dan simbol keberanian berpikir dan memperjuangkan nilai, melainkan Kartini masa kini mengajarkan bahwa perubahan dinilai dari kesadaran akan hal, martabat dan proteksi diri sebagai perempuan. (Dini)
