Waspada! Jangan Sepelekan Radang Amandel, Kenali Gejala yang Patut Diwaspadai Sebelum Terlambat

kobennews.id- Sakit tenggorokan sering kali dianggap sepele akibat kurang minum atau gejala flu biasa. Namun, jika rasa sakit tersebut disertai dengan kesulitan menelan yang hebat, bisa jadi itu adalah tanda tonsilitis atau radang amandel.

Menurut Dokter Spesialis THT RS Sari Asih Ciledug dr. Mediana Dewi Estanty,  amandel (tonsil) merupakan dua kelenjar kecil yang berada di tenggorokan dan berfungsi sebagai benteng pertahanan pertama dalam menyaring kuman. Ketika amandel mengalami infeksi bakteri atau virus, ukurannya akan membengkak dan meradang. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat memicu komplikasi yang lebih serius.

“Pada dasarnya jaringan ini memegang peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh, khususnya pada masa kanak-kanak. Karena berfungsi sebagai benteng pertahanan pertama yang menyaring kuman, bakteri, dan virus yang masuk melalui mulut atau hidung,” katanya.

Namun, lanjutnya, seiring berjalannya waktu, ketika paparan mikroorganisme patogen terjadi secara masif atau kondisi imunitas tubuh sedang menurun, amandel yang semula berfungsi sebagai pelindung justru dapat berubah menjadi sarang infeksi. Tak hanya itu, radang amandel tidak hanya menyerang anak-anak, melainkan orang dewasa yang diakibatkan oleh paparan polusi, asap rokok, faktor alergi kronis, hingga masalah asam lambung (GERD) yang terus-menerus mengiritasi area tenggorokan.

Ia menjelaskan, ketika amandel mengalami peradangan, beberapa gejala klinis yang umumnya dirasakan dan patut diwaspadai. Seperti, rasa sakit atau perih yang hebat di tenggorokan, terutama saat menelan makanan atau cairan. Amandel terlihat membengkak, berwarna merah pekat, dan terkadang disertai bercak putih atau kekuningan (eksudat). Demam tinggi mendadak disertai tubuh menggigil, aroma napas menjadi tidak sedap (bau mulut/halitosis) akibat penumpukan sisa bakteri dan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar leher yang terasa nyeri saat ditekan. (Dini)

Kapan Amandel Harus Operasi

Dokter Spesialis THT RS Sari Asih Ciledug dr. Mediana Dewi Estanty mengatakan, pada tahap awal atau radang akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri, penanganan medis umumnya melibatkan pemberian antibiotik yang sesuai resep dokter, obat pereda nyeri, serta antiinflamasi.

Namun, lanjutnya, jika radang amandel berubah menjadi kronis dan terjadi lebih dari 5-7 kali dalam setahun atau ukurannya membesar secara ekstrem hingga memicu gangguan napas berat (Sleep Apnea/mendengkur parah saat tidur) dan menyulitkan proses menelan, maka tindakan pembedahan pengangkatan amandel (Tonsilektomi) menjadi solusi medis terbaik yang direkomendasikan.

Ia menjelaskan, perdarahan pasca-operasi sering terjadi dan ada beberapa faktor medis yang mendasari perdarahan tersebut dapat terjadi. Yaitu, setelah amandel diangkat, area bekas operasi tidak dijahit seperti luka kulit luar biasa, sering konsumsi makanan bertekstur keras, dehidrasi dan tenggorokan kering, tekanan tinggi akibat batuk, mengejan, atau aktivitas berat.

“Radang amandel tidak boleh disepelekan, terutama jika gejalanya sudah mulai mengganggu kualitas tidur dan aktivitas harian Anda. Jika tindakan operasi amandel diperlukan, pasien tidak perlu panik secara berlebihan mengenai risiko perdarahan, asalkan selalu mematuhi instruksi pasca-operasi dan membatasi aktivitas fisik sesuai anjuran,” tutupnya. (Dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top