Akselerasi Penurunan AKI-AKB, Kota Tangerang Terapkan Pendekatan ‘Quality Improvement Collaborative’

kobennews.id- Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan, terus memperkuat komitmennya dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Langkah terbaru yang diambil adalah dengan menerapkan pendekatan inovatif Quality Improvement Collaborative (QIC) di empat rumah sakit intervensi dan lima puskesmas di wilayah Kota Tangerang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni mengatakan, empat rumah sakit tersebut adalah RS Melati, RS Dinda, RSUD Kota Tangerang dan RSU Bhakti Asih. Sedangkan puskesmas ada PKM Panunggangan, Cipondoh, Kunciran, Poris Gaga Lama dan Tanah Tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, metode QIC ini berfokus pada kolaborasi aktif antar-fasilitas kesehatan untuk melakukan reorganisasi pelayanan secara mandiri dan berkelanjutan. Pendekatan ini memanfaatkan data klinis riil di lapangan guna mendeteksi celah pelayanan (gaps), lalu mengujinya melalui siklus perbaikan cepat yang dikenal dengan metode Plan-Do-Study-Act (PDSA).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang mengungkapkan bahwa pemilihan empat RS intervensi ini didasarkan pada volume penanganan kasus maternal (ibu) dan neonatal (bayi baru lahir) yang cukup tinggi. Melalui jejaring pembelajaran (learning network) dalam QIC, keempat rumah sakit diharapkan dapat saling berbagi solusi terbaik atas kendala klinis yang sering dihadapi. Seperti penanganan perdarahan pascapersalinan (HPP) maupun asfiksia pada bayi baru lahir.

“Alhamdulillah berdasarkan data, angka kematian ibu setiap tahun menunjukkan penurunan. Di tahun 2024 kematian ibu sebanyak  tujuh kasus, bayi 37 kasus, tahun 2025 kematian ibu sebanyak 5 kasus dan bayi 36 kasus dan tahun 2026 bulan Mei kematian ibu 0 kasus dan kematian bayi 12 kasus,” katanya. (Dini)

Keberhasilan Kolaborasi RS dan Puskesmas

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni mengungkapkan, program kolaboratif yang dilakukan di 4 rumah sakit dan 5 puskesmas ini menunjukkan beberapa keberhasilan :

1.    Kejadian PE (PreEklampsia) pada tahun 2024 berhasil di tekan jauh di bawah garis median. Sehingga pada tahun 2025 terjadi penurunan median sebesar 25,88 persen  atau berhasil ditekan hingga 1 persen di seluruh faskes. Artinya, tidak ada kematian baik karena PE maupun Eklampsia sejak 2023-2025 di 9 faskes yang melaksanakan QI Collaborative.

2.    Tidak ada kematian ibu karena karena HPP (Perdarahan Pasca Persalinan) tahun 2025 di 9 faskes yang melaksanakan QI Collaboratve

3.    Terjadi Penurunan kejadian asfiksia di 5 Puskesmas yang melaksanakan QI Collaboratve, dan terjadi penurunan kematian bayi akibat asfiksia di 4 RS yang melaksanakan QI Collaboratve.

Ia mengungkapkan, Kota Tangerang berkomitmen akan melanjutkan praktik baik ini dengan pengembangan (scale up) kepada  Puskesmas dan RS se-Kota Tangerang secara bertahap, sebagai salah satu upaya penurunan AKI dan AKB melalui peningkatan mutu layanan di Fasilitas Kesehatan/Quality Improvement. (Dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top