Menjaga “Keabadian” Rasa: Kisah Bu Oskar dan Tiga Dekade Gado-Gado Eternal


KOTA TANGERANG, Kobennews – Di sebuah sudut Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, waktu seolah berjalan lebih lambat di sebuah warung sederhana. Suara ulekan yang beradu dengan cobek batu menjadi musik harian yang telah terdengar selama hampir tiga puluh tahun. Di sanalah Yunio, atau yang lebih dikenal dengan sapaan hangat Bu Oskar, merawat sebuah warisan rasa yang ia beri nama “Eternal”.

Nama itu bukan sekadar label. “Eternal” yang berarti abadi adalah cerminan dari keteguhan hati seorang perempuan yang kini menginjak usia 50 tahun. Dimulai dari nol, Bu Oskar membangun usahanya bukan dengan strategi pemasaran yang rumit, melainkan dengan kekuatan tangan dan ketulusan rasa.

Setiap pagi, kesibukan di warung ini dimulai dengan pemilihan bahan yang ketat. Bagi Bu Oskar, rahasia kelezatannya terletak pada bumbu yang “medok”—istilah lokal untuk bumbu yang kental, berani, dan royal. Ia tidak pernah berkompromi dengan kualitas. Kacang tanah pilihan disangrai sempurna, dipadukan dengan bumbu-bumbu segar yang diulek dengan tenaga yang masih sama kuatnya seperti saat ia memulai usaha puluhan tahun silam.

“Kuncinya cuma satu, bumbu harus medok dan dibuat dengan hati,” ucapnya singkat sambil tangannya lincah mencampur sayuran hijau, tahu, dan tempe ke dalam siraman saus kacang yang berkilau.

Warung Gado-Gado Eternal telah menjadi titik temu bagi banyak kalangan. Di sana, sekat-sekat sosial melebur di balik meja kayu. Mulai dari warga sekitar, pegawai Pemkot Tangerang, hingga anggota DPRD Kota Tangerang seperti Veri Montana, kerap terlihat duduk menikmati hidangan. Mereka datang bukan hanya untuk sekadar mengenyangkan perut, tapi untuk mencari cita rasa rumahan yang kini kian langka.

Selain gado-gado yang melegenda, etalase warungnya juga dihiasi aneka masakan yang membangkitkan memori masa kecil. Ada pepes yang aromanya harum dibalut daun pisang, bakwan jagung yang renyah, hingga ketoprak dan karedok yang kesegarannya selalu terjaga.

Perjalanan tiga dekade ini tidak dilalui tanpa rintangan. Namun, Bu Oskar membuktikan bahwa konsistensi adalah mata uang yang paling berharga. Di tengah dunia yang serba instan dan berubah cepat, ia memilih untuk tetap setia pada ulekannya. Ia adalah potret nyata bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan hati akan memiliki “napas” yang panjang.

Hingga hari ini, Gado-Gado Eternal tetap tegak berdiri. Bukan sekadar tempat mencari makan, namun sebagai simbol ketekunan seorang ibu yang berhasil mengabadikan rasa di hati para pelanggannya. (Panji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top