Tekan Dampak Negatif Medsos, KORMI Kota Tangerang Dorong Permainan Tradisional Masuk Kurikulum Sekolah

Kobennews.id- Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Tangerang, Sulfi Afriadi, menegaskan pentingnya langkah konkret dalam melindungi anak-anak dari dampak negatif media sosial dan ketergantungan gawai (gadget). Salah satu solusi strategis yang diusung adalah dengan memasukkan permainan tradisional ke dalam kurikulum pendidikan atau ekstrakurikuler di tingkat sekolah.

Sulfi menyoroti urgensi implementasi PP Tunas sebagai solusi dari hulu ke hilir untuk mengatasi persoalan digital pada anak. Ia menekankan bahwa pemerintah daerah memegang peranan vital dalam mengubah regulasi ini menjadi kebijakan publik yang berdampak nyata.

“Kami menekankan perlunya tindakan tegas terhadap penggunaan NIK, KK, hingga akun palsu oleh anak-anak di bawah umur di berbagai platform digital. Ini adalah langkah proteksi yang tidak bisa ditunda,” ujar Sulfi.

Sejalan dengan pernyataan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Kak Seto, KORMI Kota Tangerang menyatakan apresiasi dan dukungan penuh untuk melestarikan permainan tradisional di lingkungan pendidikan.

Mengingat kolaborasi beberapa bulan lalu antara KORMI, OKP PMII, dan LPAI Kota Tangerang, Sulfi menceritakan antusiasme luar biasa dari para siswa SMP saat diperkenalkan kembali dengan kekayaan budaya bangsa.

“Saat itu kami menghadirkan Kak Seto untuk belajar dan bermain bersama. Anak-anak sangat senang dan bahkan bertanya-tanya tentang permainan seperti Bakiak, Egrang, Ketapel, dan Sumpit. Banyak dari mereka yang berharap permainan ini ada di sekolah dalam bentuk ekstrakurikuler,” ungkapnya.

Besar harapan KORMI agar anak-anak di Kota Tangerang dapat beralih dari ketergantungan gawai menuju aktivitas fisik yang edukatif. Untuk mewujudkan hal tersebut, KORMI yang berada di bawah naungan Dispora siap berkolaborasi dan melakukan sosialisasi ke satuan pendidikan melalui Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Tangerang.

“Melalui kolaborasi ini pertama mendorong permainan tradisional menjadi bagian dari Muatan Lokal atau Ekstrakurikuler. Kedua menjaring pegiat olahraga masyarakat (OTRAD) sejak dini untuk dibina dan didelegasikan dalam perlombaan tingkat Kota, Provinsi, hingga Nasional. Terakhir memberikan ruang bagi perkembangan psikis anak melalui interaksi sosial dalam permainan tradisional sebelum mereka terjun ke lingkungan masyarakat luas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sekolah adalah gerbang awal. Dengan membatasi penggunaan gawai dan menggantinya dengan pendekatan psikologi pendidikan melalui permainan tradisional, kita tidak hanya menyelamatkan mental anak, tapi juga mencetak bibit-bibit juara baru bagi Kota Tangerang.(Adit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top