kobennews.id- Gawai atau smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja masa kini. Namun, di balik kemudahan teknologi yang ditawarkan, penggunaan smartphone yang tidak terkontrol terutama menjelang malam hari kini menjadi pemicu utama merosotnya kualitas tidur di kalangan siswa sekolah.
Dokter Spesialis Anak- Subspesialis Tumbuh Kembang Pediatri Sosial dr. Tuty Herawaty mengatakan berdasarkan pengamatan dan sejumlah riset kesehatan remaja, gangguan tidur akibat gawai ini tidak hanya memicu rasa kantuk di kelas tetapi juga berdampak sistemik pada penurunan prestasi akademik dan gangguan emosional siswa.
Selain itu, lanjutnya, efek blue light dan sindrom Fomo. Dimana, para ahli kesehatan menyebut bahwa ada dua faktor utama bagaimana smartphone merusak siklus tidur siswa yaitu faktor biologis dan faktor psikologis. Secara Biologis layar smartphone memancarkan cahaya biru yang dapat menekan produksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur. Akibatnya, otak tetap mengira situasi masih siang hari sehingga siswa kesulitan untuk memejamkan mata meskipun tubuh sudah lelah.
Sedangkan secara psikologis (FOMO – Fear of Missing Out), terjadi adanya kecemasan takut ketinggalan informasi atau tren di media sosial yang membuat siswa terus mengecek ponsel mereka hingga larut malam, baik aktivitas bermain game online atau berselancar di media sosial yang membuat otak tetap terjaga dan hyperactive.
Ia menambahkan, tak hanya itu, penurunan kualitas dan kuantitas tidur ini membawa efek domino yang langsung terlihat di lingkungan sekolah. Karena, banyak siswa yang datang ke sekolah dengan kondisi mata merah dan wajah lesu dan ketika ditanya mayoritas mengaku baru tidur di atas jam satu malam karena keasyikan bermain handphone.
“Dampak negatifnya banyak, penurunan konsentrasi, daya ingat melemah, nilai ujian merosot, mudah sakit, sakit kepala dan diabetes, cemas dan mudah stress,” katanya. (Dini)
