Anak siapapun bisa saja menjadi bully rekan sebayanya, atau bahkan orang di sekitarnya. Lantas apa yang bisa orang tua lakukan jika anak mereka menjadi korban bully. Psikolog Arsyita Sri Wardhani mengatakan, bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang baik fisik atau verbal.
Sehingga, menurutnya, kita sebagai orang tua jangan menganggap anak kita hebat atau bangga karena sudah menjadi pelaku bullying. Melainkan orang tua harus menilai ada sesuatu yang tidak beres pada anak kita, salah satunya terkait kesehatan mental pada anak.
“Kasus bullying pada anak ibarat gunung es, kasusnya banyak tapi jarang ada yang melapor,” katanya.
Ia menjelaskan, menenangkan anak menjadi hal penting. Tanamkan pada anak bahwa dia tetap dicintai dan berharga, karena perlakuan bully membuat anak merasa tak berdaya dan tak berguna. Kemudian ajarkan anak untuk meningkatkan kepercayaan diri sendiri, ajarkan anak untuk mencari bantuan disaat tidak dalam kondisi baik, melatih anak untuk berani menolak, anak perlu dilatih untuk empati, menjaga sikap dan mampu menyelesaikan konflik sendiri serta membuka komunikasi dengan baik.(Dini)
Langkah Awal Untuk Orang Tua
Ia menyarankan, selain itu, sebaiknya orang tua mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, siapa pelakunya, kapan, di mana dan bagaimana kejadiannya.
Selanjutnya, dengarkan dengan sabar dan biarkan anak bercerita sampai selesai tanpa memotong atau memarahi anak. Validasi perasaan anak dengan ucapkan terima kasih karena sudah melapor, lalu katakan bahwa kejadian tersebut adalah kesalahan pelaku bukan kelemahan anak.
Selain itu, kumpulkan bukti dengan menyimpan pesan teks, foto luka atau catat waktu dan pelaku jika perundungan terjadi secara fisik maupun digital. Lapor ke sekolah dengan datangi guru, wali kelas atau kepala sekolah. Jangan suruh anak membalas dan damping pemulihan mental. (Dini)
