Menurut Sekretaris Jendral Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Lianita Prawindarti, manajemen laktasi bagi kalangan Generasi Z (Gen Z) berfokus pada pentingnya ibu muda dari agresivitas promosi susu formula di media sosial, serta membangun sistem pendukung yang nyata terutama di lingkungan rumah maupun lingkungan kerja.
Ia mengaku, pergeseran manajemen laktasi ibu menyusui dari generasi milenial ke Gen Z dilihat dari melekatnya perilaku Gen Z dengan teknologi, ditambah promosi atau iklan susu formula sangat masif di media sosial termasuk melibatkan pembuat konten.
Lanjutnya, ibu muda Gen Z cenderung memilih melakukan edukasi laktasi atau pemberian ASI secara mandiri melalui media sosial. Untuk itu, dibutuhkan pembekalan diri dengan pengetahuan laktasi yang valid dan secara nyata agar tidak mudah goyah atau beralih ke susu formula tanpa indikasi media.
“Sekarang itu modelnya, banyak ibu muda dikit-dikit tanya ke sosmed. Padahal, lebih bagusnya ya tanya ke konselor atau ke layanan kesehatan yang memang dia paham laktasi,” katanya.
Selain itu, ibu Gen Z tidak boleh krisis digital. Artinya, harus kritis menyaring informasi kesehatan bayi di internet dan mengandalkan konselor laktasi resmi. Sedangkan bagi kalangan Gen Z yang mulai memasuki dunia kerja dan membangun karir, manajemen laktasi tidak akan sukses hanya dari niat sang ibu melainkan butuh kebijakan manajemen perusahaan yang berpihak.
“Untuk perusahaan atau kantor pemerintahan, ruang laktasi tidak boleh sekedar menggugurkan kewajiban hukum. Tetapi buat fasilitas tersebut layak, privat, memberikan waktu yang fleksibel dan mudah dijangkau dari meja kerja,” paparnya. (Dini)
Butuh Dukungan Lintas Sektor
Ia menegaskan, menyusui bukan hanya tugas seorang ibu melainkan tanggung jawab bersama. Sehingga bagi Gen Z yang dinamis, keberhasilan manajemen laktasi membutuhkan peran aktif pasangan (Ayah ASI) dalam memahami teknik laktasi dan membantu urusan domestik, dengan tujuan untuk menjaga kestabilan produksi ASI.Selain itu, regulasi daerah atau sinergi pemerintah dan swasta untuk memperketat aturan promosi produk pengganti ASI di tingkat lokal demi melindungi hak ibu menyusui. “AIMI secara organisasi, akan terus bertransformasi dengan menghadirkan identitas baru, kampanye digital yang segar, serta edukasi berbasis komunitas kelompok pendukung ibu (peer-support) agar lebih relate dengan gaya hidup anak muda masa kini,” tutupnya. (Dini)
