Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus memperkuat implementasi program smart city dengan mendorong pembangunan berbasis kawasan strategis. Salah satu langkah utamanya adalah pengembangan konsep aerotropolis di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi.
Kepala Bappeda Kota Tangerang, Yeti Rohaeti, menjelaskan bahwa konsep aerotropolis merupakan pembangunan wilayah yang berpusat pada bandara sebagai simpul aktivitas ekonomi.
“Konsep aerotropolis itu pembangunan berbasis bandara. Karena kita memiliki bandara internasional, maka kawasan di sekitarnya akan dikembangkan menjadi pusat-pusat ekonomi penunjang,” ujar Yeti.
Untuk merealisasikan konsep tersebut, Pemkot Tangerang fokus pada pembangunan infrastruktur jalan sebagai pemicu pertumbuhan kawasan. Tiga ruas utama yang menjadi prioritas, yakni Jalan Surya Darma, Kali Perancis, dan frontage utara Tol Sedayu–Atmo.
Pembangunan ini tidak semata bertujuan mengurai kemacetan menuju bandara, tetapi juga membuka akses ke lahan-lahan potensial yang selama ini belum tergarap. Fajrin
Multiplier Effect: Pajak hingga Lapangan Kerja
Yeti menegaskan, pembangunan infrastruktur ini memiliki efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah. Selain meningkatkan nilai investasi, juga berpotensi menambah pendapatan asli daerah (PAD) dari berbagai sektor.
Beberapa potensi yang akan tumbuh di antaranya pajak hotel, restoran, parkir, hingga Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Di sisi lain, program ini juga selaras dengan inisiatif “Gampang Kerja” yang telah melatih ratusan tenaga konstruksi lokal.
“Sekitar 300 tenaga kerja sudah kita siapkan. Nanti mereka bisa terserap dalam pembangunan ini,” kata Yeti.
Untuk mempercepat capaian tersebut, Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin telah menandatangani Memorandum of Understanding atau Nota Kesepahaman (MoU) bersama jajaran direksi PT Angkasa Pura Indonesia (API) dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk beserta anak perusahaannya.
Sachrudin menjelaskan dalam MoU tersebut mencakup kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang dan PT Angkasa Pura Indonesia, dalam pemanfaatan serta pengembangan kawasan penunjang akses bandara.
Selain itu, disepakati pula modifikasi Simpang Susun Kunciran bersama PT Jasamarga Metropolitan Tollroad, PT Jasamarga Kunciran Cengkareng, dan PT Marga Trans Nusantara.
“Kami ingin memastikan setiap warga merasakan dampak pembangunan ini. Penguatan akses bandara dan modifikasi Simpang Susun Kunciran bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang mempermudah aktivitas masyarakat, membuka peluang usaha baru, serta menciptakan lapangan kerja,” ujar Sachrudin. Fajrin
Ia menegaskan Kota Tangerang diarahkan menjadi kota bisnis yang maju, berkelanjutan, dan berkarakter aerotropolis. Karena itu, peningkatan aksesibilitas menuju dan dari kawasan bandara menjadi kebutuhan strategis yang tidak bisa ditunda. Fajrin
